Pengalaman Pertama Kali Mendaki di Gunung Lawu

Awal mula saya mengenal Gunung Lawu ini ialah dari teman saya Mas Andy, memang orangnya agak beraliran keras hehe tetapi bagaimapun juga dia tetap teman saya.

Awal pertama kali muncak di gunung ini ketika saya masih bekerja di Surabaya, disebuah tempat kerja yang rasanya memang menyebalkan, seluruh teman saya yang bekerja di sini pun sudah resign semua, salah satunya termasuk Mas Andy ini.

Waktu itu, saya, Dawang (anak klaten), Mas Andy (dari Ngawi) juga Mas Rizky (dari Ponorogo) pulang kerja lebih awal, saya bertiga bertujuan ke rumah Mas Andy untuk mendaki gunung lawu, sedangkan Mas Rizky memang mau pulang, mungkin hendak lamaran.

Mas Andy dan Mas Rizky berboncengan, mengendarai motor Vixion merah milik Mas Rizky, tentu mereka berdua melaju sekencang-kencangnya, meninggalkan titik berwarna merah dari warna baju dan motornya.

Sedangkan saya dengan Dawang melaju dengan rasa malas, takut dan penuh perhitungan. Selama perjalanan, hujan mengguyur begitu deras, kami pun berhenti di sebuah indomaret untuk membeli makanan ringan juga jas hujan dari plastik.

Kami berempat akhirnya melanjutkan perjalanan, bayang-bayang Mas Rizky dan Mas Andy sudah begitu jauh hingga sudah tak terlihat lagi. Saya dengan dawang mencoba mengejar, dan sial sekali, beberapa detik kemudian ban motor yang kami tumpangi meletus, yaps terpaksa putar balik sebab tukang tambal ban berada jauh di belakang kami, sedangkan di depan sudah tidak nampak ada penambal ban.

Hingga menjelang maghrib, baru selesai ditambal. Kami pun melanjutkan perjalanan lalu mampir di sebuah masjid tidak jauh dari lokasi tambal ban untuk menunaikan sholat maghrib. Setelah sholat maghrib, kami sadar perjalanan masih jauh, sedangkan Mas Andy dan Mas Rizky sudah pasti berada ratusan kilometer di depan kami.

Perjalanan pun berlalu, hari sudah semakin malam, semakin malam hujan semakin deras mengguyur perjalanan kami. Saya kira Mas Andy dan Mas Rizky sudah sampai di tujuan, namun saya dengan Dawang bahkan masih belum setengah perjalanan. Kami berdua memutuskan istirahat di rest area dekat indomaret, sambil menunaikan sholat isya’.

Setelah beristirahat cukup lama, kami meneruskan perjalanan, kami bergantian menyetir motor, tapi saya rasa, saya yang paling sering menyetir, karena jujur saya begitu takut kalau si Dawang yang nyetir.

Perjalanan semakin terasa mengerikan ketika melewati jalanan tanpa ada perumahan, kanan kiri hanya ada pepohonan yang menjulang, suasana semakin menakutkan karena hujan semakin mengguyur deras. Selain itu, tidak ada lampu penerang di sepanjang jalan, pandangan mata sedikit kabur, terlebih banyak sekali truk bermuatan besar yang berlalu lalang, sesekali kadang tidak sengaja menabrak jalanan berlubang, tentu saya semakin ketakutan. Terlebih, saya baru kali itu mengendarai motor dengan jarak yang begitu jauh.

Namun, saya tetap berusaha kuat, berani dan menahan kantuk. Akhirnya pas tengah malam, saya dan Dawang akhirnya sampai di sekitar Pondok Pesantren Gontor Putri, dipinggir jalan sudah ada Mas Andy menunggu menunggangi motor Vario berwarna merah. Sambil tertawa dan meledek kami berdua karena lama sekali. Katanya Mas Andy bahkan sudah datang beberapa jam yang lalu.

Kami bertiga akhirnya mengendarai motor ke rumah Mas Andy, disana kami dipersilahkan istirahat, serta sudah disediakan makanan dan minuman yang begitu hangat. Hmm rasanya pengen main ke rumah Mas Andy lagi, bertemu dengan Ibu dan Ayahnya, sebab waktu itu saya kurang tau berbincang dengan mereka.

Malam itu, kami beristirahat, untuk persiapan pendakian esok hari…

Mencari Sewa Perlengkapan Pendakian

Sebelum mendaki, saya, Dawang juga Mas Andy pergi mencari tempat sewa perlengkapan pendakian, hari itu sudah cukup siang, sebab saya bangun kesiangan, bahkan sholat shubuh pun kesiangan. Pikirku, “kenapa nggak dibangunin?”, tapi mungkin Mas Andy merasa kasihan, sebab semalam sudah kehujanan, kelelahan entahlah. Atau mungkin sudah berusaha dibangunkan tetapi saya tetap tidak bangun. Tetapi sudahlah, saya tetap menunaikan sholat subuh.

Setelah bersih-bersih diri, mandi dan makan, lalu kami berangkat. Sejujurnya waktu itu masih belum tau dimana harus menyewa perlengkapan pendakian, kami pun mutar-muter mengikuti Mas Andy, hingga beberapa jam baru akhirnya kami menemukan tempat sewa pendakian.

Waktu itupun saya baru sadar, kalau sudah muter-muter begitu jauh, hingga sampai di daerah Sragen. Sungguh keterlaluan, mencari sewa pendakian saja dari Ngawi hingga Sragen

Semua perlengkapan yang dibutuhkan di sewakan oleh Mas Andy, lalu kami bertiga beranjak pulang, hari benar-benar begitu melelahkan. Di perjalanan pulang, kami mampir di sebuah masjid untuk menunaikan sholat Jum’at. Setelah itu kami lanjut pulang dan mempersiapkan semua kebutuhan untuk pendakian.

Perjalanan Menuju Gunung Lawu

Sejujurnya, perjalanan hendak menuju Gunung Lawu sudah sangat melelahkan, sebab kemarin sudah terlalu kelelahan di perjalanan, ditambah guyuran hujan yang semakin menguras daya tahan tubuh. Saya melihat Dawang pun terlihat tidak ada antusiasnya sama sekali, begitupula dengan Mas Andy yang terlihat seperti terpaksa hanya karena ingin melihat kami berdua bisa menikmati keindahan Gunung Lawu.

Perjalanan cukup lama dari Ngawi hingga Pos Pendakian Cemoro Sewu Gunung Lawu. Entah berapa jam perjalanan, sebab saya memang sudah kelelahan dan begitu ngantuk. Selama perjalanan, trek di penuhi dengan tanjakan tajam serta tiba-tiba menukik dengan curam, tentu saja saya tidak begitu lihai mengendarai motor, selain membawa perlengkapan yang cukup berat, juga sedang membonceng si Dawang yang tidak sekurus tubuh saya.

Memasuki lereng Gunung Lawu, motor yang kami tunggangi rasanya sudah menyerah, tidak mau berjalan lebih kencang lagi, sepertinya memang sebab saya yang kurang jam terbang mengendari motor di medan menanjak tajam seperti di lereng Gunung Lawu. Namun, saya tetap berjuang, hingga akhirnya sampai di pos pendakian.

Waktu sudah terlalu sore, kami bingung untuk terus melakukan pendakian atau menunggu esok hari. Hingga beberapa saat kami memutuskan untuk tetap mendaki, dan sialnya, waktu itu pendakiannya sedang di tutup, namun masih ada beberapa pendaki yang menerobos, termasuk kami bertiga.

Waktu itu, saya sadar sudah melanggar beberapa hal, pertama saya tidak izin kepada Ibu saya, hanya bilang hendak bermain ke rumah teman yang ada di Ngawi. Lalu yang kedua, melanggar aturan pendakian, yaitu menerobos jalur pendakian yang di tutup.

Pendakian itu di tutup, sebab cuacanya memang sedang kurang baik. Terlihat awan diatas Gunung Lawu seperti menggulung menutupi puncaknya. Namun kami tetap menerobos, tentu hal ini tidak baik untuk ditiru, saya sendiri sadar akan kesalahan tersebut.

Saya rasa, Mas Andy sebenarnya sudah menyadari hal tersebut, mungkin dia juga tidak akan meneruskan pendakian jika hanya sendirian, hanya saja mungkin dia kasihan kepada saya juga Dawang, jadi dia tetap memutuskan untuk tetap mencoba. Kemungkinan Mas Andy sudah tahu, tidak akan sampai puncak nanti kami bertiga akan tetap turun.

Kami pun akhirnya meneruskan pendakian, terlihat ada beberapa orang pendaki yang juga menerobos. Mereka menyalip kami bertiga, sambil saling menyapa. Perjalanan selama pendakian, yang kami lakukan hanya berfoto dan bercerita saja, sudah terasa pendakian ini tidak akan berlanjut.

Selain itu, beberapa pendaki yang tadi menyalip kami, mereka memutuskan turun kembali, sebab diatas cuacanya benar-benar mengerikan. Selain itu, beberapa rombongan pendakian yang muncak sebelum jalur di tutup juga sudah turun semua, mereka juga bercerita keadaan diatas kurang baik. Mereka juga menganjurkan kami untuk turun saja, tapi kalaupun memaksa tidak apa-apa asalkan tetap hati-hati. Mungkin mereka tidak tahu bahwa sebenarnya jalur pendakian sudah ditutup. Jika tahu, mungkin mereka juga akan melarang kami melanjutkan perjalanan.

Kami bertiga masih belum menyerah, tetap melakukan pendakian, hingga beberapa saat kemudian cuacanya benar-benar berubah. Kabutnya begitu tebal, serta anginnya begitu kencang, udara pun terasa begitu dingin, bahkan terlihat dedaunan berubah warna menjadi putih membeku. Disaat seperti itu, kami masih sempat berfoto, hehe. Sambil menunggu keadaan, hingga beberapa saat, ternyata keadaan sekitar semakin tidak membaik, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan, dan pergi turun kebawah.

Tidur di Mushola

Sesampainya kembali ke bawah, tepatnya di pos pendakian, kami bertiga istirahat di sebuah mushola yang ada di sebrang jalan. Disana kami juga membeli beberapa cemilan. Di mushola itu, kami istirahat hingga malam hari, bahkan kami juga memutuskan untuk bermalam disana.

Saya memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Oh iya, semenjak sore, badai semakin menjadi-jadi, bahkan tiang lampu di depan mushola tersebut hampir roboh, angin terasa sangat kencang, saya sudah tidak tahan merasakan hawa dingin, sehingga memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.

Setelah semuanya tertidur, beberapa orang yang sebelumnya berbincang dengan Mas Andy juga sudah bergi dengan rombongannya, saya terbangun, di pojokan depan mushola ada sepasang lelaki dan wanita, entah mereka berdua suami istri, adik-kakak, atau entahlah. Terlihat mereka berdua begitu kedinginan, lelaki tersebut hingga tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan si perempuan terlihat gematar sambil menangis sebab kedinginan. Mas Andy pun terbangun, mengajak kami pindah tidur di pos pendakian.

Mereka berdua, sepasang lelaki dan perempuan tersebut diajak oleh Mas Andy untuk tidur di pos pendakian, ketika saya berdiri menyebrang jalan, dinginnya sungguh menusuk jantung saya, terasa begitu dingin, pantas saja mbak tadi sampai menangis, sebab saya yang menggunakan jaket tebal dengan selimut pun masih terasa menusuk-nusuk dinginnya, sedangkan mbak tadi hanya mengenakan kemeja biasa bahkan tidak mengenakan sarung tangan dan kaos kaki.

Sesampainya di pos pendakian, mbak tadi, langsung diberikan tempat, serta sleeping bag, beruntung disana ada beberapa perempuan juga, sehingga ditempatkan bersama mereka, saya masih merasa kasihan, namun yang bisa saya lakukan hanya merasa iba saja, tentu saya tidak akan memberikan selimut saya padanya, sebab saya sendiri tidak tahan. Toh mbaknya juga ada masnya, hehe.

Kami semua pun akhirnya tertidur, lalu bangun untuk sholat subuh, setelah itu kami bertiga melihat keadaan sekitar. Rasanya sudah lebih mendingan ketimbang malam tadi. AKhirnya kami mencoba mendaki kembali. Setelah berjalan beberapa saat, rasanya kok dingin sekali, jadi kami urung melanjutkan pendakian, malah berfoto-foto di sebuah taman kecil yang ada di sekitar post pendakian. Hingga beberapa saat, kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat saja.

Perjalanan pulang pun dilanjutkan, namun kami memutuskan mampi disebuah danau, namanya Danau Sarangan, disana kami bertiga memasak kebutuhan yang seharusnya untuk logistik ketika pendakian, sambil beberapa kali mengambil foto. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang, istirahat, dan tentu saja saya sambil melamun.

Ceritapun selesai, hingga pada akhirnya kami bertiga bekerja di tempat yang berbeda. Mas Andy tetap di Surabaya hingga menikah, Dawang kurang tahu kabarnya bagaimana, dan beberapa waktu kemudian, saya bekerja di Malang, dimana kemudian, kota ini menjadi kota yang penuh dengan kenangan bagi saya.

Credit featured image by Google Maps @Ashar Bagus Riyadi 352 (Sebab dokumentasi saya hilang, hehe)

Terima kasih, sudah membaca cerita saya 🙂

~ Jangan mencintai sesuatu terlalu banyak ✨ ~

Leave a Comment