Hujan 16 November

Sidoarjo, 16 November 2022. Hari ini, langit begitu muram. Tentu muramnya langit berbeda dengan yang kita pikirkan.

Sebuah pertanda akan turunnya hujan. Kebetulan, aku rindu datangnya hujan. Sebab, aku bisa mengingat semuanya ketika rintikan air itu jatuh bertubi-tubi menetesi genting yang memecah hening pikiranku.

Tubuhku terasa kurang enak badan. Kemaren, tenggorokanku terasa kering, pertanda bahwa hari ini akan jatuh sakit. Direngah malam, aku terbangun. Aku teringat bahwa Sistem Operasi yang aku gunakan di laptop sedang merilis versi terbarunya, yakni Fedora 37. Aku menyempatkan membukanya, dan memperbarui versi ke yang lebih baru.

Cukup lama update yang dilakukan. Sebab, laptop yang aku gunakan juga merupakan laptop tua, yang dibelikan Ibu ketika aku hendak belajar di Sintesa.

Laptop itu, aku gunakan untuk menulis, juga belajar bahasa pemrograman. Itu sebabnya, aku tidak menggunakan Windows sebagai sistem operasinya. Selain itu, Linux adalah satu-satunya sistem operasi yang bisa di jalankan di laptop tua, serta semuanya gratis.

Dipagi hari, aku pergi menuju indomaret untuk mengambil uang, kemudian pergi menuju toko ATK membeli kertas A4 sejumlah 4 rem. Setelah membayar, aku segera pergi. Sebab rintikan hujan sudah mulai turun.

Tidak berselang lama, hujan deras pun berjatuhan. Setelah agak terang, lalu aku pergi ke Surabaya menuju Rumah Sakit Bhayangkara untuk mengambil berkas serta mengantarkan beberapa kebutuhan.

Dari Sidoarjo langit masih terlihat gelap. Memang baru saja hujan mulai reda. Perjalanan dari Sidoarjo menuju Surabaya kurang dari 30 menit. Sesampainya di RS Bhayangkara, aku menyerahkan pesanan mereka, serta mengambil beberapa berkas. Selanjutnya aku langsung pergi.

Sekitar pukul 13.28 aku menuju Masjid Agung Surabaya, aku ingin sedikit menenangkan pikiran disana, berkeluh kesah, sekalian menunaikan sholat ashar. Entahlah, aku kerap kali merasa kosong. Aku tahu penyebabnya, namun aku masih belum mampu mengatasinya.

Setelah beberapa saat berdiam di sana, lalu ketika setelah selesai sholat, aku langsung pergi. Menuju parkiran dan mengambil sepeda motor. Sekalian menyiapkan karcis motor. Sesampainya di penjaga parkir aku menyerahkan karcis parkirannya. Lalu kata mas penjaganya “Bukan yang ini mas” sambil menyerahkan tiket karcisnya.

Aku bingung, kemudian masnya bilang lagi “Bukan ini karcisnya mas” lalu baru aku sadar, ternyata yang aku serahkan karcis yang dari RS Bhayangkara sebelumnya. Tentu saja aku merasa malu.

Entahlah, selain merasa kosong, aku kerap kali melamun, memikirkan hal-hal yang sudah tidak akan pernah bisa aku perbaiki kembali. Menyesali sesuatu yang terlalu berat. Entahlah, aku terlalu bingung menjelaskannya.

Aku bergegas pulang.. Jalanan dari Surabaya menuju Sidoarjo begitu padat. Memecah lamunanku. Aku tidak lagi terlalu memikirkan kehampaan itu lagi, terlalu pusing dengan padatnya jalanan yang begitu macet. Perjalanan kembali dari Surabaya menuju Sidorjo terasa lebih lama. Sebab, sebelum pukul 3 sore aku sudah bergegas, namun sesampainya di Sidoarjo sudah pukul 4 lebih beberapa menit.

Selain itu, aku baru sadar, berkas yang aku bawa ternyata ada yang salah. Yang seharusnya aku serahkan, justru aku bawa kembali. Sedangkan yang harus aku bawa pulang, malah aku tinggalkan disana.

~ Secangkir semangat, dengan kopi Kapal Api ~

Leave a Comment